Review Operasi Pesta Copet (2026): Komedi Kriminal Musikal yang Segar
Menonton Operasi Pesta Copet rasanya seperti diajak nongkrong bareng teman-teman yang punya selera humor nyeleneh tapi tetap asyik diikuti. Film garapan sutradara Edy Khemod ini memadukan genre komedi, kriminal, dan musik dalam satu paket yang cukup berani untuk ukuran sinema lokal. Kehadiran deretan musisi dari berbagai generasi membuat proyek produksi Imajinari ini terasa seperti festival musik yang disusupi rencana pencurian konyol.
![]() |
| Operasi Pesta Copet |
Informasi singkat Operasi Pesta Copet
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Judul | Operasi Pesta Copet |
| Tahun Rilis | 2026 |
| Durasi | 113 menit |
| Genre | Komedi, Kejahatan, Musik |
| Sutradara | Edy Khemod |
| Penulis | Rino Sarjono, Edy Khemod |
| Produser | Ernest Prakasa, Dipa Andika, Iqbaal Ramadhan, James Erlangga |
| Pemeran Utama | Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba |
| Studio Produksi | Imajinari, Angin Segar Production, Boss Creator, Legacy Pictures |
Rencana Konyol di Tengah Hiruk Pikuk Festival
Cerita dibuka dengan memperkenalkan Ijal (Iqbaal Ramadhan) dan Adut (Kristo Immanuel), dua sekawan yang hidupnya pas-pasan. Mereka melihat sebuah festival musik besar sebagai peluang emas untuk mengubah nasib. Rencana mereka sederhana: menyusup ke area konser dan menjalankan aksi copet saat penonton sedang mabuk kepayang oleh dentuman musik. Persiapan mereka melibatkan perekrutan beberapa orang tambahan, termasuk Tia (Zulfa Maharani) dan Melodi (Kawai Labiba), yang masing-masing punya keahlian tersendiri di jalanan.
![]() |
| Gambar dari Imajinari |
Tim kecil ini mulai menyusun strategi. Silet (Fauzan Lubis) dan Hanum (Azizah Hanum) ikut terseret dalam pusaran rencana tersebut. Di sisi lain, ada Maman (Ardit Erwandha) dan Toni (Kiki Narendra) yang menjadi ancaman tersendiri bagi kelancaran operasi. Ketegangan antara niat mencari uang cepat dan risiko tertangkap dibangun secara bertahap melalui dialog-dialog ringan yang memancing tawa. Tempo penceritaan di babak pertama terasa santai, memberi ruang bagi penonton untuk mengenal motif setiap karakter sebelum kekacauan dimulai.
Aksi Mencopet yang Berujung Kacau
Begitu festival dimulai, skenario yang sudah disusun rapi langsung berantakan. Penampilan band-band papan atas yang dibintangi langsung oleh para musisi asli seperti Rhoma Irama, Raisa Andriana, hingga Bernadya membuat suasana semakin riuh. Keramaian ini awalnya menguntungkan kelompok Ijal, namun situasi berubah ketika target mereka ternyata lebih rumit dari perkiraan. Beberapa korban copet menyadari kehilangan barang mereka jauh lebih cepat, memicu kepanikan kecil yang menyebar di tengah lautan manusia.
Di titik ini, naskah karya Rino Sarjono dan Edy Khemod menunjukkan kekuatannya. Alih-alih menyajikan adegan kriminal yang menegangkan, konflik justru dieksekusi lewat komedi fisik dan kesalahpahaman antar karakter. Interaksi antara Ijal dan Tia memberikan lapisan emosional yang mencegah cerita terasa terlalu dangkal. Kehadiran cameo dari komedian seperti Arie Kriting dan Vincent Rompies sebagai selebritas belakang panggung menambah bumbu kejutan yang menyegarkan tiap kali plot mulai terasa repetitif.
Musik Sebagai Jantung Penceritaan
Elemen musik dalam Operasi Pesta Copet bekerja maksimal berkat arahan tata suara Ken Jenie dan Mar Galo. Setiap pergantian genre musik di atas panggung seolah menjadi penanda perubahan suasana hati para karakter di bawahnya. Saat lagu bernada melankolis mengalun, kita melihat keraguan Ijal terhadap jalan hidup yang ia pilih. Ketika musik kembali menghentak, adrenalin tim copet ini ikut terpacu untuk segera menyelesaikan misi dan kabur.
Puncak cerita terjadi ketika Atot (Mal Jupri) dan Opik (Rio Dumatubun) tanpa sengaja memicu kekacauan besar yang menarik perhatian pihak keamanan. Seluruh anggota geng terpaksa berlarian menembus kerumunan penonton sambil menghindari kejaran. Klimaksnya ditutup dengan cara yang cukup memuaskan: sebagian berhasil lolos dengan pelajaran berharga, sementara yang lain harus menerima konsekuensi dari tindakan mereka. Resolusi ini terasa realistis untuk ukuran komedi jalanan, menjaga agar pesan moralnya tersampaikan tanpa terkesan menggurui.
![]() |
| Gambar dari Imajinari |
Rating
Rating: 7/10. Konsep perpaduan heist movie dan festival musik dieksekusi dengan semangat tinggi, didukung penampilan Iqbaal Ramadhan dan Kristo Immanuel yang solid, meski eksekusi komedinya kadang tidak merata.



Gabung dalam percakapan