Review The Death of Robin Hood (2026): Tafsir Gelap tentang Sang Legenda
The Death of Robin Hood tidak datang sebagai petualangan pahlawan yang ringan dan penuh aksi heroik. Film garapan Michael Sarnoski ini memilih melihat Robin Hood sebagai manusia yang sudah lelah, terluka, dan harus berhadapan dengan konsekuensi dari hidupnya sendiri.
![]() |
| The Death of Robin Hood |
Informasi singkat The Death of Robin Hood
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Judul | The Death of Robin Hood |
| Tahun | 2026 |
| Sutradara | Michael Sarnoski |
| Pemain | Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgård, Murray Bartlett, Noah Jupe |
| Genre | Petualangan, Drama, Aksi |
| Durasi | 123 menit |
| Negara | Amerika Serikat |
| Tanggal tayang | 18 Juni 2026 |
| Studio | Lyrical Media, Ryder Picture Company |
Robin Hood yang Kehilangan Arah
Cerita dimulai ketika Robin Hood berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Ia bukan lagi sosok pemanah legendaris yang memimpin pemberontakan dengan keyakinan penuh. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang dipenuhi kejahatan dan pembunuhan, Robin menjadi seorang pejuang yang kelelahan secara fisik maupun batin.
![]() |
| Gambar dari A24 |
Dalam kondisi terluka parah, ia ditemukan dan berada dalam perawatan Sister Brigid, seorang perempuan misterius yang melihat kemungkinan lain di balik reputasi sang bandit. Pertemuan ini menjadi fondasi utama cerita. Robin tidak hanya berusaha bertahan hidup, tetapi juga dipaksa mempertanyakan apakah masih ada jalan menuju penebusan.
Pendekatan tersebut membuat film ini terasa lebih dekat dengan drama karakter daripada kisah kepahlawanan konvensional. Michael Sarnoski, yang dikenal tertarik pada tokoh-tokoh dengan luka emosional, menempatkan masa lalu Robin sebagai beban yang terus hadir. Konfliknya bukan cuma soal siapa yang berkuasa, melainkan apakah seseorang yang telah lama hidup dengan kekerasan masih mungkin mengubah arah hidupnya.
Sister Brigid dan Peluang Penebusan
Hubungan Robin dan Sister Brigid menjadi pusat emosional The Death of Robin Hood. Brigid tidak diposisikan sekadar sebagai penyelamat yang merawat tokoh utama. Ia menjadi cermin yang membuat Robin melihat kembali pilihan-pilihannya. Tawaran keselamatan yang ia berikan membawa pertanyaan penting: apakah penebusan harus datang melalui pengampunan orang lain, atau justru lewat keberanian untuk mengakui dosa sendiri?
Hugh Jackman punya ruang yang tepat untuk memainkan Robin sebagai figur tua dan letih, bukan pahlawan yang selalu tampak tak terkalahkan. Sementara itu, Jodie Comer berpotensi memberi Sister Brigid lapisan misteri yang menjaga hubungan keduanya tetap menarik. Film ini tampaknya sengaja menahan jawaban tentang motif Brigid, sehingga setiap percakapan di antara mereka memiliki ketegangan tersendiri.
Kehadiran Little John, yang diperankan Bill Skarsgård, memperluas konflik personal Robin ke masa lalu yang lebih besar. Ia mengingatkan bahwa Robin bukan manusia yang berdiri sendirian. Ada kawan, musuh, dan orang-orang yang ikut terkena dampak dari legenda yang selama ini dibangun di sekelilingnya.
Legenda yang Dilucuti dari Romantismenya
Yang paling menarik dari film ini adalah keberaniannya menggeser fokus dari mitos menuju akibat. Kisah Robin Hood biasanya identik dengan pencurian dari kaum kaya, pembelaan terhadap rakyat kecil, dan perlawanan terhadap tirani. The Death of Robin Hood memilih titik yang lebih muram, yaitu apa yang tersisa setelah seorang pemberontak menjalani terlalu banyak kekerasan.
Dengan durasi 123 menit, film memiliki ruang untuk membangun suasana dan hubungan antartokoh, meski pendekatan yang tenang bisa terasa lambat bagi penonton yang mengharapkan aksi terus-menerus. Justru di situlah daya tariknya sekaligus risikonya. Film ini menjanjikan drama tentang rasa bersalah dan kesempatan kedua, bukan sekadar duel pedang atau kejar-kejaran di hutan.
Pada akhirnya, kekuatan utama The Death of Robin Hood terletak pada perubahan sudut pandang tersebut. Robin tidak diperlakukan sebagai simbol yang sudah selesai, melainkan manusia yang masih harus memilih di saat hidupnya hampir berakhir. Bila Sarnoski berhasil menjaga keseimbangan antara drama intim, atmosfer abad pertengahan, dan ketegangan aksi, film ini bisa menjadi salah satu reinterpretasi Robin Hood yang paling dewasa.
![]() |
| Gambar dari A24 |
Rating
Rating: 7.5/10. Saya memberi nilai ini karena gagasan untuk menampilkan Robin Hood sebagai sosok yang letih dan dihantui masa lalu terasa lebih segar daripada mengulang formula pahlawan rakyat yang sama. Daya tariknya sangat bergantung pada kedalaman drama, tetapi fondasi ceritanya cukup kuat untuk menghasilkan film petualangan yang emosional.
The Death of Robin Hood cocok untuk penonton yang menyukai kisah legenda dengan pendekatan lebih gelap, reflektif, dan berpusat pada karakter.



Gabung dalam percakapan