Review Film The Odyssey (2026): Epik Nolan yang Megah

Review The Odyssey (2026) karya Christopher Nolan, membahas cerita, akting, visual, musik, kelebihan, kekurangan, dan pengalaman menontonnya.
The Odyssey 2026 karya Christopher Nolan
The Odyssey (2026), film epik Christopher Nolan yang mengadaptasi kisah perjalanan Odysseus.

Ada film yang memang terasa kurang kalau ditonton di layar kecil. The Odyssey menurut saya termasuk salah satunya.

Christopher Nolan mengambil kisah Odysseus, seorang raja yang mencoba pulang setelah Perang Troya, lalu mengubahnya menjadi tontonan blockbuster dengan skala yang sangat besar. Ada perang, laut, monster, dewa, perjalanan panjang, dan segala macam hal yang memang sudah seperti paket lengkap untuk sebuah film epik.

Dan ya, filmnya memang besar.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal apakah Nolan mampu membuat sesuatu yang terlihat megah. Dari awal pun rasanya sudah bisa ditebak jawabannya.

Yang lebih menarik justru: apakah perjalanan Odysseus pulang ke Ithaca juga terasa berarti secara emosional?

Di bagian ini, saya punya sedikit catatan.

Informasi Detail
Judul The Odyssey
Sutradara Christopher Nolan
Penulis Christopher Nolan
Pemeran Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Zendaya, Lupita Nyong'o, Charlize Theron
Genre Fantasi, Epik, Action
Durasi 172 menit
Tahun 2026
Negara Amerika Serikat
Bahasa Inggris
Produksi Universal Pictures, Syncopy

Cerita dan Cara Nolan Membawanya

Ceritanya sendiri sebenarnya cukup sederhana. Odysseus, Raja Ithaca, ingin pulang setelah Perang Troya. Hanya saja, perjalanan pulang itu ternyata jauh lebih panjang dari yang seharusnya.

Ada banyak hal yang menghalangi. Laut, perang, monster, dewa, dan berbagai kejadian lain yang membuat perjalanan tersebut terasa seperti tidak ada habisnya.

Di atas kertas mungkin terdengar sederhana. Dibawa ke film berdurasi hampir tiga jam? Jelas lain cerita.

Nolan juga tidak kelihatan ingin membuat adaptasi yang sekadar menceritakan ulang kisah Homer dari awal sampai akhir. Ia mengolahnya dengan gaya yang cukup familiar kalau kita sudah pernah menonton film-filmnya.

Cerita terasa seperti potongan-potongan perjalanan yang harus kita susun sendiri. Ada bagian yang terasa seperti ingatan, ada kejadian yang baru terasa penting setelah kita melihat kejadian lainnya.

Saya cukup menikmati pendekatan ini.

Soalnya, perjalanan Odysseus sendiri memang terasa seperti perjalanan yang tidak jelas ujungnya. Dia terus bergerak, tetapi rumah yang dituju rasanya selalu saja masih jauh.

Cuma, gaya seperti ini juga punya konsekuensi.

Kadang saya lebih tertarik memperhatikan bagaimana Nolan menyusun ceritanya daripada apa yang sebenarnya sedang dirasakan Odysseus. Kita tahu dia ingin pulang. Kita tahu sudah terlalu lama dia pergi. Kita juga tahu ada keluarga yang menunggunya.

Tetapi tidak semua bagian perjalanan itu terasa sama kuat secara emosional.

Ada beberapa momen ketika saya lebih sibuk menikmati filmnya daripada ikut merasakan perjalanan karakternya.

Untuk cerita yang pada dasarnya adalah tentang seseorang yang ingin pulang, saya rasa ini cukup penting.

Matt Damon dan Para Pemeran

Matt Damon terasa cocok sebagai Odysseus.

Dia tidak perlu terlihat seperti pahlawan yang setiap saat siap berdiri di depan kamera dengan pose gagah. Ada rasa capek dalam karakternya. Dan itu justru membantu.

Odysseus sudah melewati perang dan perjalanan yang panjang. Dia bukan lagi sekadar seorang raja atau prajurit. Dia adalah orang yang ingin kembali ke rumah setelah terlalu lama pergi.

Damon bisa menyampaikan hal itu tanpa harus terlalu banyak menjelaskannya lewat dialog. Dari ekspresinya saja sudah cukup terasa kalau karakter ini sudah melewati banyak hal.

Anne Hathaway sebagai Penelope juga mengambil pendekatan yang cukup tenang.

Ruang untuk karakternya memang tidak selalu terasa sebesar yang saya bayangkan sebelumnya, tetapi Hathaway tetap berhasil memberikan kesan bahwa Penelope bukan sekadar seseorang yang menunggu di rumah. Ada kehidupan yang terus berjalan meskipun Odysseus tidak ada di sana.

Tom Holland sebagai Telemachus juga memberi sisi yang lebih personal.

Hubungan antara anak dan ayah ini membuat cerita yang skalanya sudah sangat besar terasa sedikit lebih dekat. Di tengah semua perang dan perjalanan, tetap ada hubungan keluarga yang menjadi alasan kenapa perjalanan ini harus berakhir di rumah.

Robert Pattinson, seperti biasa, cukup mudah mencuri perhatian.

Ada energi yang lebih teatrikal dari penampilannya, dan menurut saya itu cocok dengan dunia The Odyssey yang memang dari awal sudah terasa seperti sesuatu yang besar dan tidak biasa.

Pemeran lainnya juga membuat dunia film ini terasa penuh.

Tapi ada satu masalah yang tidak bisa saya abaikan. Nama besar di jajaran pemeran memang menarik, tetapi tidak semuanya otomatis mendapatkan ruang yang sama.

Ada karakter yang terasa penting. Ada juga yang akhirnya lebih terasa seperti bagian dari dunia besar yang sedang dibangun Nolan.

Visual yang Memang Dibuat untuk Layar Besar

Kalau soal visual, saya rasa sulit untuk banyak berdebat.

The Odyssey memang dibuat untuk bioskop.

Laut yang luas, medan perang, lanskap yang terasa seperti berasal dari dunia mitologi, sampai makhluk-makhluk yang muncul sepanjang perjalanan semuanya dibuat dengan skala yang terasa sangat besar.

Dan saya suka ketika film tidak buru-buru memotong sebuah pemandangan.

Kadang cukup biarkan kamera menunjukkan betapa luasnya tempat yang sedang kita lihat. Tidak perlu langsung dijelaskan lewat dialog.

Hoyte van Hoytema juga kembali menjadi bagian penting dari visual film ini. Gambar-gambarnya terasa punya berat. Dunia yang ditampilkan bukan cuma terlihat mahal, tetapi juga terasa seperti tempat yang benar-benar bisa kita masuki.

Itulah salah satu alasan saya merasa film ini akan jauh lebih cocok ditonton di bioskop.

Ada beberapa adegan yang mungkin tetap terlihat bagus di rumah, tetapi efeknya tentu tidak akan sama ketika layar memenuhi pandangan dan suara memenuhi satu ruangan.

The Odyssey termasuk film yang menurut saya memang sebaiknya ditonton di layar sebesar mungkin.

Kalau punya kesempatan menontonnya di bioskop dengan layar besar, manfaatkan.

Musik dan Sound Design

Ludwig Göransson juga punya tugas yang cukup berat di sini.

Film sebesar ini tentu membutuhkan musik yang bisa membuat adegan terasa besar. Tapi kalau terlalu berlebihan, hasilnya bisa terasa seperti setiap lima menit film sedang berusaha memberi tahu kita bahwa yang kita tonton adalah sesuatu yang sangat EPIC.

Untungnya, scoring-nya cukup kuat.

Musiknya membantu menjaga energi film tanpa membuat semuanya terasa sama dari awal sampai akhir. Ada bagian yang terasa megah, ada juga yang lebih berat dan menekan.

Sound design-nya juga bekerja dengan baik.

Suara laut, benturan, peperangan, dan berbagai ancaman yang muncul sepanjang perjalanan membuat dunia film terasa lebih nyata. Bukan cuma dilihat, tetapi juga terasa lewat suaranya.

Meski begitu, ada saat ketika saya merasa semuanya terlalu penuh.

Visual sudah besar. Musik juga besar. Sound design ikut mendorong adegan lebih jauh.

Sesekali saya justru ingin film berhenti sebentar.

Tidak perlu ada musik besar. Tidak perlu sesuatu yang spektakuler. Cukup beri satu momen untuk bernapas.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:
  1. Skala visualnya memang terasa dibuat untuk bioskop.
  2. Matt Damon cocok sebagai Odysseus yang sudah lelah dan ingin pulang.
  3. Dunia mitologinya terasa besar dan tetap punya ciri khas Nolan.
  4. Musik dan sound design membuat pengalaman menonton semakin kuat.
  5. Beberapa set piece benar-benar punya energi blockbuster.
Kekurangan:
  1. Struktur ceritanya kadang membuat kita terasa agak jauh dari karakter.
  2. Tidak semua karakter mendapatkan ruang yang sebanding dengan nama besar pemerannya.
  3. Durasi 172 menit terasa di beberapa bagian.
  4. Kemegahan visual kadang terasa lebih kuat daripada sisi emosionalnya.

Kesimpulan

Saya keluar dari The Odyssey dengan perasaan yang agak campur aduk.

Saya suka film seperti ini masih dibuat.

Blockbuster sekarang sering terasa seperti harus mengikuti formula tertentu. Karena itu, melihat film yang berani mengambil cerita klasik, durasi panjang, pemeran sebanyak ini, visual besar, dan dunia mitologi yang tidak kecil terasa menyenangkan.

Nolan jelas tidak membuat film ini dengan setengah hati.

Di sisi lain, saya berharap perjalanan Odysseus pulang bisa sedikit lebih menyentuh.

Bukan berarti filmnya tidak punya emosi. Ada beberapa bagian yang cukup kuat. Hanya saja, setelah melihat betapa banyak perhatian yang diberikan pada skala, struktur, visual, dan set piece, sisi emosionalnya kadang terasa tertinggal sedikit.

Terutama hubungan Odysseus dengan keluarganya.

Itu sebenarnya bagian yang paling mudah membuat saya terhubung dengan ceritanya. Seorang pria sudah pergi begitu lama dan cuma ingin kembali ke rumah. Sesederhana itu.

Saya cuma berharap filmnya lebih sering berhenti di sana.

Meski begitu, saya tetap menghargai keberanian Nolan membuat film sebesar ini.

The Odyssey punya ambisi. Dan yang lebih penting, film ini tidak mencoba menyembunyikan ambisinya. Mau membuat sesuatu yang besar? Ya sudah, dibuat sekalian besar.

Hasil akhirnya memang tidak sempurna.

Ada bagian yang membuat saya benar-benar terpukau. Ada juga bagian yang membuat saya mulai melihat jam.

Tapi saya tetap lebih memilih film seperti ini daripada blockbuster yang terlalu takut mengambil risiko.

Buat saya, The Odyssey adalah film yang lebih gampang dikagumi daripada dicintai.

Saya bisa melihat betapa besar usaha di baliknya. Saya bisa menikmati visualnya, musiknya, dunia yang dibangun, dan beberapa adegannya. Tetapi secara emosional, saya tidak selalu merasa sedekat yang saya harapkan.

Kalau datang ke bioskop untuk melihat film epik dengan visual besar, dunia mitologi, aksi, dan pengalaman layar lebar, The Odyssey punya banyak hal untuk diberikan.

Kalau yang dicari adalah drama tentang seorang pria yang cuma ingin pulang dan bertemu keluarganya lagi, mungkin film ini tidak akan terasa sedalam itu.

Rating

Rating: 8/10. Odyssey punya cerita yang menarik, visual yang memanjakan mata, dan atmosfer yang cukup kuat untuk membuat perjalanan ceritanya terasa berkesan. Beberapa bagian mungkin terasa cukup padat, tetapi secara keseluruhan film ini tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan dan meninggalkan kesan setelah selesai ditonton.


Punya pendapat tentang film ini? Yuk, bagikan di kolom komentar. Terima kasih sudah membaca!