Review Superman (2025): Man of Steel yang Lebih Manusiawi

Review film Superman (2025) garapan James Gunn: performa David Corenswet, dinamika dengan Lois Lane, visual komik, kelebihan, dan kekurangannya.
Superman 2025 poster film David Corenswet
Superman (2025)

Ada momen di awal Superman ketika saya sadar film ini tidak berusaha meyakinkan saya bahwa dunia superhero butuh diselamatkan lagi. Clark Kent sudah jadi Superman selama tiga tahun, dia sudah kalah dalam satu pertarungan di menit-menit pembuka, dan Krypto si anjing malah menyeretnya pulang ke Benteng Kesunyian dalam keadaan babak belur. Bukan pembukaan megah yang biasa dipakai film origin superhero. Justru dari situ James Gunn menunjukkan arah film ini: personal, agak berantakan, dan lebih tertarik pada Clark sebagai manusia daripada Superman sebagai ikon.

Premisnya sendiri sebenarnya sederhana. Superman baru saja mencampuri konflik geopolitik di negara fiktif bernama Boravia, dan itu membuat Lex Luthor punya alasan sempurna untuk menyerangnya lewat opini publik, media, sampai tim metahuman bayaran yang menamakan diri Justice Gang. Di tengah semua itu, Clark juga harus menghadapi hubungan yang makin serius dengan Lois Lane, sekaligus pertanyaan soal identitasnya sebagai orang Krypton yang dibesarkan sebagai anak petani Kansas.

Yang bikin saya penasaran sejak awal adalah bagaimana Gunn menyeimbangkan nada film ini. Ada humor khas dia yang mengalir cepat, tapi juga ada momen yang sengaja dibuat menyentuh soal imigrasi, kepercayaan publik, dan siapa yang berhak disebut manusiawi.

Informasi Singkat Superman

Info Detail
Judul Superman
Tahun 2025
Sutradara James Gunn
Penulis James Gunn
Pemain David Corenswet, Rachel Brosnahan, Nicholas Hoult, Nathan Fillion, Edi Gathegi, Isabela Merced, Anthony Carrigan
Genre Aksi, Petualangan, Fiksi Ilmiah
Durasi 129 menit
Negara Amerika Serikat
Bahasa Inggris
Rilis 11 Juli 2025
Produksi DC Studios, Troll Court Entertainment, The Safran Company

Cerita Tanpa Spoiler

Ceritanya bergerak cepat, mungkin terlalu cepat di beberapa titik. Boravia, Justice Gang, Daily Planet, Lex Luthor, semuanya dijejalkan dalam waktu sekitar dua jam. Untungnya Gunn cukup piawai menjaga fokus tetap di Clark. Setiap kali film mulai terasa sesak oleh karakter sampingan, ada satu adegan tenang antara Clark dan Lois, atau Clark dan orang tua angkatnya, yang menarik penonton kembali ke inti cerita.

Bagian paling menarik justru bukan pertarungan besar melawan monster raksasa di awal film, melainkan wawancara Lois terhadap Clark di apartemennya. Dialognya panjang, agak canggung, dan terasa seperti percakapan sungguhan antara dua orang yang saling sayang tapi juga saling mengkritik cara pandang masing-masing soal tanggung jawab.

Soal Boravia dan konflik internasional yang jadi pemicu masalah Superman, saya menahan diri untuk tidak membahas terlalu detail karena itu bagian dari perkembangan cerita yang sebaiknya ditemukan sendiri saat menonton. Yang bisa saya katakan, motif Luthor tidak sekadar "orang jahat iri sama Superman". Ada lapisan ambisi bisnis yang membuatnya terasa lebih berbahaya dibanding versi-versi sebelumnya.

Karakter dan Akting

David Corenswet mengambil peran yang sudah dimainkan banyak aktor besar dan tetap terasa segar. Dia bukan Superman yang selalu tenang dan penuh wibawa. Ada momen dia terlihat kikuk, marah, bahkan naif soal cara dunia bekerja. Justru dari situ karakternya terasa hidup. Saya sempat berpikir performanya akan tenggelam di antara banyaknya karakter lain, tapi ternyata film ini cukup disiplin menjaga Clark sebagai pusat emosional cerita.

David Corenswet sebagai Superman
Gambar dari DC Studios.

Rachel Brosnahan sebagai Lois Lane juga bukan sekadar pendamping. Ada ketegangan menarik antara perannya sebagai jurnalis dan sebagai pasangan Clark, film ini berani membiarkan keduanya berdebat tanpa buru-buru menyelesaikan masalah dengan pelukan manis. Nicholas Hoult sebagai Lex Luthor punya energi lebih dingin dan strategis dibanding Luthor versi sebelumnya, meski beberapa dialognya terasa sedikit terlalu menjelaskan motivasinya sendiri.

Yang mengejutkan buat saya adalah Justice Gang. Nathan Fillion sebagai Guy Gardner curi perhatian lewat komedi yang pas, tidak berlebihan, dan Edi Gathegi sebagai Mister Terrific tampil tenang tapi meyakinkan. Isabela Merced sebagai Hawkgirl sayangnya paling sedikit mendapat ruang untuk berkembang, padahal karakternya punya potensi besar.

Visual dan Sinematografi

Secara visual, film ini mengambil pendekatan warna-warni ala komik yang jarang dipakai film superhero modern. Metropolis terasa cerah, hampir naif dalam palet warnanya, dan itu cocok dengan nada cerita yang optimis meski membahas isu berat. Sinematografi Henry Braham menjaga adegan aksi tetap mudah diikuti, sesuatu yang belakangan makin jarang ditemukan di film sejenis.

Adegan aksi Justice Gang
Gambar dari DC Studios.

Efek visual untuk Krypto lumayan meyakinkan, meski beberapa adegan CGI di paruh akhir mulai terasa padat dan agak melelahkan mata. Musik garapan John Murphy dan David Fleming membawa kembali sentuhan tema klasik Superman tanpa terdengar seperti tempelan nostalgia semata, meski scoring-nya tidak terlalu meninggalkan kesan kuat setelah film selesai.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:
  1. Performa David Corenswet membangun ulang karakter Superman tanpa terasa meniru versi sebelumnya.
  2. Dinamika Clark dan Lois ditulis dengan jujur, tidak dipaksakan romantis.
  3. Palet visual komik yang berani dan konsisten sepanjang film.
  4. Humor Gunn hadir tanpa merusak momen-momen serius.
Kekurangan:
  1. Terlalu banyak karakter baru diperkenalkan sekaligus sehingga beberapa terasa kurang matang.
  2. Hawkgirl dan sebagian anggota Justice Gang mendapat porsi pengembangan yang tipis.
  3. Paruh akhir film terasa sesak oleh aksi CGI yang menumpuk.

Kesimpulan

Superman versi James Gunn bukan reboot yang berusaha menjelaskan ulang siapa Superman dari nol. Film ini berangkat dari asumsi bahwa penonton sudah kenal karakternya, lalu fokus pada bagaimana rasanya jadi Superman di dunia yang makin sinis terhadap kebaikan tanpa syarat. Buat saya, keputusan itu berisiko tapi bikin film ini terasa beda dari kebanyakan reboot superhero belakangan ini.

Bukan berarti filmnya sempurna. Ambisi memperkenalkan Justice Gang, Metamorpho, sampai konflik Boravia sekaligus membuat sebagian subplot terasa buru-buru. Tapi di antara semua kesibukan itu, hubungan Clark dan Lois tetap jadi jangkar emosional yang bikin saya peduli sampai akhir. Penonton yang kangen nuansa komik lama dan tidak keberatan dengan nada yang lebih ringan dibanding film DC sebelumnya kemungkinan besar akan cocok dengan film ini.

Rating

Rating: 7.5/10. Angka ini saya berikan karena performa Corenswet dan chemistry-nya dengan Brosnahan cukup kuat untuk menutupi bagian yang terasa terburu-buru. Visual yang berani dan humor yang pas porsi juga jadi nilai tambah. Yang menahan rating ini naik lebih tinggi adalah padatnya pengenalan karakter baru, sehingga beberapa anggota Justice Gang, terutama Hawkgirl, belum sempat berkembang maksimal.


Kalau sudah nonton, saya penasaran versi kamu soal Justice Gang atau chemistry Clark dan Lois, tulis di kolom komentar. Terima kasih sudah membaca sampai selesai.